Berita Banyuwangi – Migrant Care Banyuwangi menggelar dialog publik bertema “Peran Masyarakat terhadap Pencegahan Perdagangan Orang untuk Menghindari Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak”, Kamis (27/11/2025), bertempat di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Blambangan Muncar. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian kampanye global Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) yang berlangsung selama 16 hari, mulai 25 November hingga 10 Desember 2025.
HAKTP merupakan momentum internasional untuk mendorong upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Kampanye ini dimulai bertepatan dengan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan Internasional (25 November) dan ditutup pada Hari Hak Asasi Manusia Internasional (10 Desember), dengan tema global tahun ini yaitu: “Bersatu untuk Mengakhiri Kekerasan Digital terhadap Semua Perempuan dan Anak Perempuan.”
Data nasional menunjukkan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan masih sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2024, terdapat 445.502 kasus kekerasan yang dilaporkan, meningkat dari 401.975 kasus pada tahun 2023.
Sementara itu, data SIMFONIPPA KemenPPPA mencatat sejak 1 Januari hingga 21 April 2025 terdapat 6.918 laporan kasus kekerasan, dan 86,01% atau 5.950 kasus di antaranya menjadikan perempuan sebagai korban. Faktor usia, pendidikan, disabilitas, pekerjaan, hingga wilayah tinggal turut memperbesar risiko perempuan mengalami kekerasan.
Peningkatan kasus di tingkat nasional ini mengindikasikan adanya kemungkinan tren serupa terjadi di Kabupaten Banyuwangi, sehingga diperlukan kolaborasi lintas lembaga untuk pencegahannya.
Acara diikuti kurang lebih 50 peserta dari berbagai unsur, antara lain: DPRD Kabupaten Banyuwangi, Stapa Center Banyuwangi, Pemerintah Desa, Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDIS) Banyuwangi, Komunitas Desbumi Banyuwangi, SBMI Banyuwangi, Garda BMI Banyuwangi, Bumiwangi, KPI, KKBS, Media, Migrant CARE Banyuwangi
Salah satu momen penting dalam dialog tersebut adalah testimoni dari mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Katri Sudariati, warga Banyuwangi yang bekerja di Taiwan sejak 2008 hingga 2024, menceritakan pengalaman pahitnya saat mengalami pelecehan seksual. Ia mengaku pernah bekerja di sektor bangunan, rumah sakit, hingga sektor domestik. Yang paling memilukan, menurutnya, adalah ketika ia melapor ke pihak berwenang namun tidak mendapatkan respons.
“Saya tidak bisa pulang selama bertahun-tahun. Yang paling menyakitkan bukan hanya pelecehan itu, tapi ketika tidak ada siapa pun yang mau mendengar laporan saya,” ujarnya.
Berbeda dengan Katri, Ronigatun, mantan PMI asal Desa Kedungwungu, justru membawa cerita positif. Ia bekerja di Mesir, Taiwan, dan Arab Saudi selama delapan tahun tanpa mengalami kekerasan dan selalu menerima gaji tepat waktu. Ia kembali ke tanah air pada 2015 dan kini hidup mandiri.
Ketua PPDIS Banyuwangi, Wasis, turut menyampaikan bahwa penyandang disabilitas termasuk kelompok yang paling berisiko mengalami kekerasan dan eksploitasi, termasuk dalam dunia kerja.
“Kami juga membutuhkan akses dan kesetaraan. Jangan memandang penyandang disabilitas sebelah mata,” tegasnya.
PPDIS Banyuwangi saat ini memiliki sedikitnya 200 anggota yang aktif dalam berbagai kegiatan seperti servis perangkat elektronik dan usaha sablon.
Wasis juga berbagi personal story bahwa dua anaknya mampu mengenyam pendidikan, salah satunya kini kuliah di politeknik dan satu lagi berstatus pelajar SMP.
Melalui kegiatan ini, Migrant Care Banyuwangi menegaskan pentingnya edukasi publik, perlindungan hukum, koordinasi lintas lembaga, serta penyediaan mekanisme pelaporan yang aman bagi korban kekerasan dan perdagangan orang.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik gerakan bersama, agar masyarakat semakin sadar dan terlibat aktif dalam pencegahan perdagangan orang, khususnya bagi perempuan, anak, dan kelompok rentan lainnya.
Melalui dialog publik ini, Migrant Care Banyuwangi dan seluruh elemen masyarakat menegaskan komitmen bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan hanya persoalan pribadi, melainkan isu kemanusiaan yang membutuhkan aksi bersama.













Leave a Reply