18 Juli 2024
Bagikan Artikel

Banyuwangi – Penampan Puoso digelar masyarakat Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Menu wajib dalam kegiatan menyambut puasa Ramadan ini adalah ketupat dan opor ayam.
Ketupat dan opor ayam tak hanya menjadi hidangan lebaran di Banyuwangi. Makanan khas lebaran ini ternyata ada ketok tradisi Penampan Puoso untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan.

Di sepanjang jalan desa itu, Jumat (1/4/2022) malam, warga Kemiren menggelar selamatan. Setelah doa bersama mereka menyantap makanan yang disajikan.

“Memang kalau umumnya di Kemiren menyantap ketupat dan opor ayam tak harus menunggu lebaran. Pada waktu tertentu ada makanan ini,” kata Haidi Bing Slamet, tokoh pemuda Kemiren kepada detikJatim.

Penampan puoso atau tradisi menyambut bulan puasa dilakukan sehari sebelum masyarakat melakukan puasa Ramadan. Tujuannya, agar ibadah selama Ramadan lancar tanpa kendala berarti.

Ketupat dan opor ayam sebagai hidangan utama itu bermakna niat tulus masyarakat memohon doa dan meminta maaf kepada tetangga, sehingga mereka menjalankan ibadah puasa dengan hati yang bersih.

“Ketupat atau kopat dalam bahasa Using diartikan sebagai permohonan maaf. Sementara opor ayam kalau bahasa Using itu adalah Lembarang yakni membuka lembaran baru saat menjalankan ibadah dan lancar,” katanya.

Ketupat dan opor seperti halnya makanan di saat lebaran. Selain nikmat, rasa yang lembut dipadu santan dari opor ayam sangat enak. Rasa gurih opor membuat yang menyantap enggan berhenti.

Ketupat dan opor ayam juga bisa menjadi santapan beberapa ritual selamatan warga Desa Kemiren. Tak hanya Penampan Puoso dan Lebaran, tapi juga dalam ritual selapan bayi (40 hari bayi), jug hajatan dan ritual doa saat warga membeli sapi.

“Sebenarnya opor ayam dan ketupat itu ya makanan sakral kita. Karena itu tidak ada yang jualan di Banyuwangi. Apalagi di Desa Kemiren. Ada dua sebenarnya kuliner yang tak dijual. Opor ayam ketupat juga pecel pitik. Itu masakan kuliner sakral kami,” ujarnya.

Selain itu ketupat yang biasa disajikan saat Lebaran, di Desa Kemiren justru sudah muncul menjelang Ramadan. Alasannya, menurut warga, ketupat memiliki bentuk persegi seperti mata angin.

“Agar keberkahan, rezeki, dan keselamatan datang dari 4 penjuru mata angin,” ujarnya.

Tak hanya ketupat, makanan dalam Penampan Puoso lainnya yang dihidangkan juga merupakan hidangan bersantan berbahan daging ayam, sapi, dan ikan laut.

Kegiatan penampan puoso itu dilakukan dengan protokol kesehatan ketat. Biasanya, warga akan berkeliling dari rumah ke rumah. Tapi di masa pandemi dijadika satu. Duduk berjarak menggunakan masker.

“Masa pandemi ini kami lakukan 3 M. Mencuci tangan, menggunakan masker dan jaga jarak. Pandemi ini jangan sampai menjadi halangan bagi kita melakukan kegiatan ritual,” ujarnya.

Baca artikel detikjatim, “Ini Menu Wajib Penampan Puoso, Tradisi Sambut Ramadan di Banyuwangi” selengkapnya https://www.detik.com/jatim/kuliner/d-6012515/ini-menu-wajib-penampan-puoso-tradisi-sambut-ramadan-di-banyuwangi.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *