14 Juli 2024
Bagikan Artikel

Kisah Nabi Yaqub bin Ishak bin Ibrahim adalah salah satu kisah yang diabadikan di dalam Al – Quran. Sama seperti ayah, paman, dan kakeknya, Nabi Yakub juga diperintahkan oleh Allah untuk menyebarkan pesan – pesan ketauhidan kepada umatnya.

Nama Nabi Yakub disebutkan sebanyak 16 kali di dalam Al – Quran. Nabi Yakub sendiri merupakan Bapak bangsa Israil karena anaknya yang berjumlah 12 orang nantinya menjadi pendiri 12 Suku Israil. Nabi Yakub sendiri memang memiliki panggilan lain yakni Israil.

Kisah Nabi Yakub saat Masih Belia

Nabi Yakub merupakan anak dari Nabi Ishak A.S dan wanita bernama Rebekah atau Rafiqah. Ia juga merupakan cucu seorang nabi yakni Nabi Ibrahim A.S. Beliau lahir bersamaan dengan saudara kembarnya yang bernama Esau (Aishu).

Nabi Ishak berharap besar bahwa kelak kedua anak kembarnya ini juga dapat meneruskan perjuangan dakwahnya menyebarkan nilai – nilai ketauhidan dan kebaikan di wilayahnya. Untuk itu beliau pun mulai memberikan pelajaran agama serta kebijaksanaan kepada kedua putranya tersebut.

Hal-hal yang selalu diajarkan adalah hal-hal yang dapat membuat kehidupan menjadi lebih tenang dan damai, sehingga harus menjauhi sifat iri, dengki, maksiat, dan permusuhan. Hal ini beliau lakukan supaya kedua putranya selalu beriman kepada Allah SWT dan menjadi hamba yang tak pernah menyekutukan-Nya.

Saat bertumbuh dewasa, Esau dan Yakub memiliki ketertarikan yang cenderung bertolak belakang. Esau lebih suka mengasah kemampuannya dalam hal berburu hingga menjadi pemburu yang handal, maka ia lebih suka tinggal di padang.

Sedangkan Yakub lebih berperangai lemah lembut. Ia lebih suka tinggal di rumah untuk membantu ibunya memasak. Yakub juga suka berkemah di sekitar rumahnya.

Perbedaan sifat yang saling bertolak belakang itu membuat mereka saling bertengkar ketika beranjak ke usia remaja. Yakub ini memiliki sifat mengalah dan kakaknya selalu merasa paling benar serta tidak mau mengalah kepada adiknya walaupun sedang dalam keadaan bersalah.

Nabi Ishak A.S berpesan kepada kedua putranya, “Wahai anakku, kalian harus tetap beriman dan takwa kepada Allah serta selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kita sebagai hamba Allah harus selalu melakukan perbuatan baik kepada sesama manusia serta harus membantu fakir miskin. Hal itu harus dilakukan karena dianjurkan oleh Allah.”

Ketika merasakan bahwa fisiknya mulai melemah, Nabi Ishak A.S pun memiliki keinginan khusus agar anaknya dapat meneruskan perjuangan dakwahnya. Nabi Ishak lalu mendatangi anak kesayangannya yaitu Esau.

Ia berpesan kepada anaknya tersebut agar pergi berburu dan memasakkan makanan kesukaannya. Hal tersebut bertujuan agar Nabi Ishak dapat mendoakan keberkahan bagi Esau dan anaknya tersebut dapat meneruskan dakwah yang dilakukan oleh sang ayah.

Ternyata niatan Nabi Ishak ini didengar oleh Rafiqah. Rafiqah pun menginginkan Yakub lah yang memperoleh doa keberkahan dari Nabi Ishaq A.S. Ia pun meminta Yakub untuk segera menghidangkan makanan kesukaan Nabi Ishak A.S sebelum Esau tiba di rumah.

Karena secara fisik Esau dan Ya’qub terlihat berbeda meskipun mereka kembar, maka Rafiqah memakaikan pakaian Esau ke Yakub. Ia juga membalutkan hamparan kulit domba yang berbulu lebat ke leher dan tangan Yakub agar benar-benar terlihat mirip dengan Esau.

Setelah masakannya matang, Yakub yang tampil menyerupai Esau pun datang menghadap Nabi Ishak. Ia memakan dengan lahap makanan yang disajikan oleh Yakub. Setelah itu, Nabi Ishak mendoakan Yakub, yang beliau kira adalah Esau karena penglihatannya yang memburuk, agar ia selalu diberkahi, dilingkupi dengan kebaikan, dikaruniai nikmat melimpah, diberikan rezeki yang banyak, serta menjadi tuan bagi saudara dan keturunannya.

Tidak lama setelah Nabi Ishak selesai berdoa, Esau pun pulang kembali ke rumah. Nabi Ishak pun kebingungan. Hingga akhirnya diketahui oleh Nabi Ishak dan Esau bahwasanya Yakub telah berpura-berpura menjadi Esau.

Esau naik pitam dan meminta ayahandanya membatalkan doa untuk Yakub. Namun doa tersebut tidak dapat ditarik kembali. Akhirnya dalam keadaan penuh emosi Esau bersumpah untuk membunuh Yakub apabila kelak sang ayah telah meninggal.

Mendengar sumpah Esau tersebut, Rafiqah pun takut dan panik. Ia bergegas meminta Yakub untuk segera pergi ke daerah Laban, Mesopotamia. Di sana Yakub akan tinggal bersama dengan kerabat Rafiqah. Yakub sempat berpamitan dengan sang ayah ketika hendak pergi ke Mesopotamia.

Sang ayah berpesan agar Yakub tidak menikahi perempuan Palestina karena pada saat itu mereka adalah golongan yang tidak beriman. Sebagai solusi, Nabi Ishaq menyarankan Yakub untuk mencari pasangan hidup dari keluarga besar Ibrahim di Mesopotamia (sekitar Irak).

Perjalanan Menuju Irak

Nabi Ishak A.S mengatakan kepada Nabi Yakub untuk menemui Syekh Labban yang merupakan saudara dari istrinya. Tempat tinggal dari Syekh Labban ada di Faddan A’ram (Irak).

Nabi Yakub adalah seorang anak yang taat kepada kedua orang tua. Yakub yang mendengar saran ini pun mengikuti arahan dari Nabi Ishak A.S. Meskipun pindah ke Irak, tetapi orang tua dari Yakub selalu berpesan, “Semoga di sana kamu bisa belajar ilmu agama pada pamanmu.”

Setelah selesai salaat Subuh, Yakub mulai bergegas menuju Irak untuk tinggal di rumah paman Syekh Labban, ia membawa bekal dan pakaian tidak begitu banyak serta diletakkan di dalam kantung. Nabi Ishak dan istrinya pun mengantarkan anaknya sampai pintu depan rumah. Ketika berpamitan, Yakub diamanatkan oleh ayahnya agar memberikan sepucuk surat kepada Syekh Labban.

Perjalanan yang dilalui Yakub ini merupakan gurun pasir dan sahara yang sangat luas, sehingga beberapa kali Ya’qub perlu mengistirahatkan dirinya agar tidak terlalu lelah. Perjalanan menuju ke Irak juga dilakukan pada malam hari karena siang hari digunakan untuk beristirahat dan menghindarkan diri dari teriknya matahari.

Ketika beristirahat dan merasa perlu mengisi energi, maka Yakub mulai membuka perbekalannya dan memakannya. Yakub yang mulai merasakan kalau dirinya sangat lelah, mulai mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat dan agar bisa tertidur pulas.

Ketika tidur karena sangat lelah, Yakub bermimpi bahwa kehidupan di masa depan penuh dengan rezeki dan kehidupannya penuh dengan kedamaian, mulai dari keluarga hingga anak cucu dan mampu mendirikan kerajaan yang cukup besar yang sejahtera.

Setelah bangun dari tidur dan mimpinya, Yakub bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya Faddan A’ram. Di tengah perjalanan itu, beliau terus-terusan berpikir arti dan makna dari mimpinya tadi.

Selang beberapa lama berpikir tentang arti dan makna dari mimpi itu terdengar suara yang muncul di kedua telinganya, “Wahai putra Ishak. Janganlah engkau merasa takut dan terkejut. Aku adalah Malaikat Jibril yang sudah diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan wahyu kepadamu, Yakub. Wahai Yakub, ketahuilah! Mulai saat ini Allah SWT sudah mengangkat dirimu sebagai seorang nabi dan rasul. Sebarkanlah setiap kebenaran kepada seluruh umat manusia supaya menyembah dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Allah akan mewariskan Baitul Maqdis, kehidupan bahagia, dan kerajaan yang sangat besar untuk dirimu dan keturunanmu.”

Rasa lelah yang ada pada diri Nabi Yakub A.S mulai menghilang setelah bermimpi memiliki kehidupan yang tentram dan damai dan menerima wahyu dari Allah. Tak hanya rasa lelah yang hilang, tetapi Nabi Yakub A.S seperti mendapatkan energi baru untuk melanjutkan perjalanan ke Irak. Tenaga yang seperti penuh kembali membuat Nabi Yakub A.S berjalan dengan cepat agar sampai ke tempat tujuan segera mungkin.

Kisah Nabi Yakub dan Nabi Yusuf

Nabi Yakub mempunyai banyak sekali anak dari sekian banyak istri – istrinya. Yusuf lahir dari rahim perempuan bernama Rahil atau Rachel. Setelah beberapa tahun pasca Yusuf lahir, Rachel melahirkan Benyamin dan meninggal dunia saat proses bersalin.

Nabi Yakub sangat menyayangi Yusuf dan Benyamin karena mereka berdua anak yang piatu sehingga memerlukan rasa cinta dan simpati yang besar. Selain itu Nabi Yakub juga mengetahui bahwa Yusuf kelak akan menjadi Nabi yang hebat.

Rasa sayang yang besar itulah yang akhirnya membuat saudara – saudara Yusuf kemudian merasa iri dan berupaya membunuhnya dengan melemparkannya ke dalam sumur di tengah gurun pasir. (afr)

Sumber tvonenews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *