18 Juli 2024
Bagikan Artikel

Shalat tarawih merupakan shalat malam yang dilakukan di bulan Ramadhan. Shalat tarawih juga merupakan salah satu ibadah sunnah yang mendapat sambutan antusias dari umat muslim di seluruh dunia. Volume jamaah di masjid dan mushola pun lebih penuh dibanding bulan-bulan biasanya. 

Semua jamaah mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, tua, muda datang berbondong-bondong untuk shalat tarawih berjamaah bersama umat muslim lainnya.

Shalat malam tarawih tidak disyariatkan untuk tidur terlebih dahulu. Sedangkan shalat tahajjud menurut mayoritas pakar fiqih adalah shalat sunnah yang dilakukan setelah bangun tidur dan dilakukan di malam mana saja. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9630)

Para ulama sepakat bahwa shalat tarawih hukumnya adalah sunnah atau dianjurkan. Bahkan menurut para ulama Hanafi, Hanabilah, dan Malikiyyah, hukum shalat tarawih adalah sunnah muakkad atau  sangat dianjurkan. Shalat ini dianjurkan bagi laki-laki dan perempuan. Shalat tarawih merupakan salah satu syi’ar Islam. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9631)

Keutamaan bagi orang yang melaksanakan shalat tarawih sendiri sangat besar, yaitu mendapat pengampunan dosa. Rasulullah saw bersabda, 

  مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ   

Artinya, “Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau” (HR al-Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat karena iman dan dijalani dengan penuh keikhlasan, mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya. (Fathul Bari, 6/290)
 
Terkait apakah semua dosa, kecil dan besar, ulama berbeda pendapat. Imam Haramain mengatakan bahwa dosa yang bisa dihapus karena shalat tarawih adalah dosa kecil, sebab dosa besar hanya bisa dilebur dengan jalan taubat.

Namun, berbeda dengan Imam Ibnul Mundzir. Dikutip dari nu online, Ibnul Mundzir memaparkan bahwa dosa yang dihapus adalah seluruhnya, baik kecil maupun besar. Sebab, untuk menyebut kata dosa pada redaksi hadits di atas adalah menggunakan lafal “ma” yang dalam diskursus gramatika bahasa Arab (ilmu nahwu) memiliki arti umum. (al-Ramli, Nihayatul Muhtaj, tt: juz 3, hal. 206)

Sebagai manusia adakalanya keimanan seseorang naik dan turun. Naik dan turunnya iman dapat dideteksi melalui semangat ibadah yang dilakukan seseorang. Demikian pula dalam pelaksanaan shalat tarawih yang terjadi di masyarakat.

Pekan pertama hingga pertengahan Ramadhan, jamaah biasanya terlihat masih ramai. Namun, begitu masuk separuh terakhir bulan Ramadhan, terutama mendekati hari raya Idul Fitri, jumlah jamaah perlahan berkurang.

Beragam hal menjadi alasan. Mulai dari kesibukan pribadi, hingga mempersiapkan kedatangan hari raya Idul Fitri seperti mudik, membuat bermacam kue lebaran, menghias rumah, membeli baju lebaran, dan banyak ragam lainnya.

Padahal, jika memahami betul betapa besar pahala yang diperoleh seorang umat dalam menjaga konsistensi shalat tarawih, semakin mendekati hari raya, seharusnya semakin semangat pula tarawihnya, begitu pula dengan ibadah lainnya.

Dalam salah satu potongan haditsnya, Rasulullah SAW bersabda,  

 إنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ   

“Sesungguhnya seorang laki-laki yang melaksanakan shalat bersama Imam (berjamaah) sampai selesai, maka baginya dihitung pahala beribadah satu malam penuh.” (HR Abu Dawud)

Atau dari Abu Dzar, Nabi SAW pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). 

Hadist tersebut menjelaskan bahwa orang yang melaksanakan shalat berjamaah dan tidak bubar hingga imam selesai (ikut berdoa dan berdzikir), maka akan mendapat pahala senilai beribadah satu malam penuh, terhitung ibadah wajib dan sunnah.

Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya mendata hadits di atas dalam bab keutamaan melaksanakan shalat pada bulan Ramadhan. (Abu Thayyib Abadi, ‘Aunul Ma’bûd, 2017; juz 2, h. 168)

Syekh Muhammad bin Ahmad al-Ramli mengatakan

 قَالَ الْإِمَامُ: )وَالْمُكَفَّرُ الصَّغَائِرُ دُونَ الْكَبَائِرِ( . قَالَ صَاحِبُ الذَّخَائِرِ: وَهَذَا مِنْهُ تَحَكُّمٌ يَحْتَاجُ إلَى دَلِيلٍ وَالْحَدِيثُ عَامٌّ وَفَضْلُ اللَّهِ وَاسِعٌ لَا يُحْجَرُ. قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ فِي قَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» : هَذَا قَوْلٌ عَامٌّ يُرْجَى أَنَّهُ يُغْفَرُ لَهُ جَمِيعُ ذُنُوبِهِ صَغِيرُهَا وَكَبِيرُهَا 

“Al-Imam al-Haramain berkata, yang dilebur adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa-dosa besar. Berkata pengarang kitab al-Dzakhair, ini adalah vonis sepihak dari al-Imam al-Haramain yang butuh dalil, padahal haditsnya umum dan anugerah Allah luas tak terbendung. Ibnu al-Mundzir berkata di dalam sabda Nabi, Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau, ini adalah perkataan yang umum, diharapkan terampuninya seluruh dosa-dosa bagi pengamalnya, dosa kecil dan besar” (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, juz 3, hal. 206).

Ulama-ulama Hanabilah (mazhab Hambali) mengatakan bahwa seutama-utamanya shalat sunnah adalah shalat yang dianjurkan dilakukan secara berjama’ah. Karena shalat seperti ini hampir serupa dengan shalat fardhu. 

Kemudian shalat yang lebih utama lagi adalah shalat rawatib (shalat yang mengiringi shalat fardhu, sebelum atau sesudahnya). Shalat yang paling ditekankan dilakukan secara berjamaah adalah shalat kusuf (shalat gerhana) kemudian shalat tarawih. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9633)

Lebih jauh, para ulama menjelaskan bahwa pada sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan malam-malam paling potensial bagi datangnya Lailatul Qadar, momen yang paling diimpikan oleh umat Nabi Muhammad SAW.

Artinya, jika kita sebagai umat muslim konsisten menjaga shalat tarawih sampai satu bulan penuh selama Ramadhan, akan banyak sekali pahala yang diperoleh termasuk meraih malam yang lebih utama dari seribu bulan ini.

Pertama, diampuni dosa-dosanya seperti yang disebutkan beberapa hadist sebelumnya. Kedua, mendapat pahala senilai menghidupkan satu malam penuh dengan beribadah selama satu bulan Ramadhan. Ketiga, berkesempatan meraih malam Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir.  

Setelah mengetahui bahwa pahala dalam konsisten menjalankan shalat tarawih sangatlah besar, ada 3 hal yang dapat dilakukan agar dapat terus konsisten dalam shalat tarawih.

Niat. Pastikan sedari awal Ramadhan sudah berniat untuk terus konsisten dan memperbaiki ibadah di Ramadhan sebelumnya. Berdoa kepada Allah SWT agar niatmu selalu dilancarkan dan selalu diberi kesehatan dalam menjalankan puasa.

Tidak makan berlebihan. Makan berlebihan bukanlah sikap yang baik. Namun, setelah berpuasa sehari penuh, tidak jarang banyak umat muslim yang menyantap hidangan yang tersaji secara berlebihan. Kebiasaan menyantap hidangan berbuka puasa hingga kenyang hanya akan membuatmu malas beribadah dan lebih cepat menimbulkan rasa kantuk. Makan dan minum secukupnya bisa memperlancar shalat tarawih tanpa gangguan.

Terakhir adalah membuat jadwal kegiatan untuk menyambut Idul Fitri. Misalkan, membuat kue lebaran selepas sahur sehingga pada malam harinya dapat melaksanakan shalat tarawih dan juga tidur lebih awal selepas terawih.(awy)

Sumber tvonenews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *