17 Juli 2024
Bagikan Artikel

jakarta Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di AS, sebanyak 30 persen orang yang terinfeksi COVID-19 mengembangkan Long COVID, serangkaian gejala yang bertahan selama berbulan-bulan di luar fase awal infeksi SARS-CoV-2.

Para peneliti dari University of California, Los Angeles (UCLA) di AS menemukan bahwa orang dengan riwayat rawat inap, diabetes, dan indeks massa tubuh yang lebih tinggi kemungkinan besar mengalami Post Acute Sequelae of COVID-19 (PASC), atau umumnya dikenal sebagai long COVID.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of General Internal Medicine, menemukan bahwa etnis, usia yang lebih tua, dan status sosial ekonomi tidak terkait dengan sindrom tersebut meskipun karakteristik tersebut telah dikaitkan dengan penyakit parah dan risiko kematian yang lebih besar akibat COVID-19.

Dari 309 orang dengan long Covid yang dipelajari, gejala yang paling persisten adalah kelelahan dan sesak napas (masing-masing 31 persen dan 15 persen) pada orang yang dirawat di rumah sakit, dan kehilangan indra penciuman (16 persen) pada pasien rawat jalan.

“Studi ini menggambarkan kebutuhan untuk mengikuti beragam populasi pasien secara longitudinal untuk memahami lintasan penyakit Long COVID dan mengevaluasi bagaimana faktor individu seperti penyakit penyerta yang sudah ada sebelumnya, faktor sosiodemografi, status vaksinasi, dan jenis varian virus memengaruhi jenis dan persistensi gejala long COVID,” kata Sun Yoo, asisten profesor klinis ilmu kesehatan di UCLA.

“Mempelajari hasil dalam satu sistem kesehatan dapat meminimalkan variasi dalam kualitas perawatan medis,” kata Yoo dalam sebuah pernyataan.

Sumber:Liputan6.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *