18 Juli 2024
Bagikan Artikel

Banyuwangi – Senyum semringah Supriyanto (66) pembuat karimba/kalimba, alat musik khas Afrika, saat dikunjungi Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas. Di bengkel sekaligus rumahnya, Supriyanto bercerita jika kembali bisa ekspor alat musik yang dibuatnya sejak 2006 lalu. Pandemi COVID-19, membuatnya berhenti berproduksi selama 2 tahun.
“Dua tahun lebih tidak produksi. Baru beberapa bulan ini mulai produksi. Permintaan dari luar negeri mulai mengalir,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (21/4/2022).

Disadur dari wikipedia, kalimba/karimba adalah sebuah alat musik perkusi. Karimba/kalimba ini adalah versi modern dari alat musik mbira dari Afrika bagian selatan. Terdiri dari sebuah kotak suara dengan tuts-tuts logam yang menempel ke bagian atas untuk memberikan not-not berbeda. Nama lainnya adalah “piano jempol” ala Afrika.

Namun kalimba buatan Supriyanto ini, terbuat dari limbah batok kelapa, beberapa kayu dan jeruji sepeda. Jika diperhatikan, bentuk alat musik kalimba ini sederhana. Ukurannya kecil, berdiameter sekitar 20-25 cm, seukuran dengan batok kelapa sebagai bahannya. Di atas permukaan kayu, ada tujuh besi jeruji yang digunakan sebagai alat petik. Dan supaya tampilannya lebih menarik, permukaan kayu kalimba dihias dengan warna-warni cat dengan corak artistik. Cantik!

“Sebagian memang dari limbah. Dan ini menjadi hal yang unik kemudian laku hingga diekspor,” tambah pria yang tinggal di Desa Aliyan Kecamatan Rogojampi.

upriyanto bercerita, dirinya merintis bisnis kalimba setelah meninggalkan pekerjaannya sebagai kuli bangunan di Bali dan pulang ke Banyuwangi. Pada 2006, Supriyanto mulai membuat kalimba dengan bahan baku limbah batok kelapa, beberapa kayu dan jeruji sepeda.

Dengan 8 karyawan yang dibina, dalam sehari Supriyadi mampu memproduksi karimba sebanyak 600-700 buah. Sedikitnya dalam sebulan ia membutuhkan kurang lebih 75 ribu hingga 140 ribu batok kelapa. Setelah diproses, satu buah Karimba ia bandrol dengan harga Rp 20.000-50.000.

“Tingkat kesulitannya pada proses pengecatan karena butuh ketelatenan dan kesabaran. Apalagi ini pengecatannya disesuaikan dengan pesanan,” kata Supriyadi.

Berkat keuletan dan semangat pantang menyerah, Bali dia jadikan tujuan awal penjualan produk buatannya. Lalu di tahun 2009 Supriyadi mulai menggandeng beberapa toko kesenian di Pulau Dewata.

Sejak saat itulah permintaan karimba buatannya terus meningkat. Kini tak hanya Bali sebagai sasaran empuk penjualan Karimba. Karimba bikinannya juga dikirim hingga ke Eropa, Afrika, Asia Tengah dan Amerika. Maka tak heran jika bisnisnya berbuah manis. Dalam sebulan, omzet Karimba buatannya bisa mencapai puluhan juta rupiah.

“Omzetnya dalam sebulan pokoknya puluhan juta rupiah lah,” katanya.

Setelah sempat terdampak pandemi COVID-19, UMKM pembuat alat musik kalimba, ini kembali ekspor. Tiap bulan, kalimba buatan UMKM milik Supriyanto ini ekspor ke berbagai negara terutama Jamaika. Selain negara asal karimba, Jamaika, juga melayani negara-negara lainnya seperti Brazil, Korea, Perancis, dan lainnya.

“Alhamdulillah sekarang sudah banyak pesanan. Baru saja saya kirim 100 ribu karimba ke Jamaika,” kata Supriyanto, saat dikunjungi Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, di sela Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa), di Desa Aliyan.

Sebelum pandemi, Supriyanto mengatakan bisa mengirim 200 ribu karimba ke luar negeri. Meski kini secara jumlah menurun, yang terpenting sudah kembali rutin ekspor ke luar negeri. Selain itu, menurut Supriyanto, produk buatannya juga kembali banyak dipesan toko-toko di Bali.

Kini, Supriyanto juga merambah ke alat musik lainnya seperti boxdrum dan julidu.

Ardian Fanani – detikJatim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *