18 Juli 2024
Bagikan Artikel

Banyuwangi – Wisata Rowo Bayu Banyuwangi menjadi perbincangan hangat masyarakat usai dikaitkan dengan kisah KKN di Desa Penari. Terlebih, Menteri BUMN Erick Tohir dalam akun instagramnya secara khusus ingin mengunjungi Rowo Bayu yang diduga lokasi asli KKN di Desa Penari.
Rupanya, Rowo Bayu yang berada di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi ini menyimpan sejarah perjuangan rakyat Blambangan terhadap penjajahan Belanda.

Rowo Bayu Banyuwangi menjadi saksi bisu Perang Puputan Bayu yang mengakibatkan jatuhnya puluhan ribu korban jiwa. Bahkan, akibat perang ini, dari 65 ribu total penduduk Blambangan kala itu, tinggal menyisakan 5 ribu jiwa saja.

Budayawan Banyuwangi Abdullah Fauzi mengatakan, banyak faktor yang melatarbelakangi terjadinya Perang Puputan Bayu pada tahun 1771. Salah satunya ialah perjanjian yang diteken antara penguasa Mataram Islam, Pakubuana (PB) II dengan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff pada 1743.

Dalam perjanjian tersebut, PB II harus menyerahkan wilayah kekuasaan Mataram di Jawa bagian timur, mulai dari Pasuruan hingga Blambangan, juga sebagian wilayah Madura.

“Persoalannya, perjanjian antara PB II dan VOC ini tidak diketahui oleh rakyat Blambangan. Selain itu, saat itu Mataram Islam tidak benar-benar menguasai wilayah Blambangan, karena masih ada sengketa dengan Kerajaan Hindu Mengwi yang ada di Badung, Bali,” ungkap Fauzi kepada detikJatim, Sabtu (21/5/2022).

Abdullah Fauzi memaparkan, sebelum masuknya Islam ke tanah Jawa, Blambangan memang masuk wilayah kekuasaan Kerajaan Mengwi. Namun, ketika wilayah ini diklaim oleh Mataram Islam, Mengwi tidak berani menentang secara frontal.

Namun, semenjak wilayah Blambangan lepas dari Mataram Islam, Mengwi kembali melakukan manuver agar bisa mengklaim wilayah itu lagi.

Mengenal Perang Puputan Bayu di Rowo Bayu Banyuwangi/Foto: Ardian Fanani/detikJatim
“Mengwi menilai Blambangan sebagai benteng terakhir menahan masuknya Islam ke Pulau Dewata,” ungkapnya.

Bahkan, pada tahun 1766, penguasa Mengwi memberikan izin kepada Inggris untuk mendirikan kantor dagang di Ulu Pampang, kota pelabuhan yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Blambangan sebelum runtuh pada 1580.

Di sisi lain, pergerakan Inggris di Bumi Blambangan ini rupanya membuat VOC kebakaran jenggot. VOC lantas melakukan patroli laut di Selat Bali dan sekitarnya untuk menangkap kapal-kapal milik Inggris.

Langkah VOC ini ternyata membuat situasi kondisi di Bumi Blambangan bertambah kacau. Untuk meredam hal tersebut, mereka mengirimkan ekspedisi militer ke Blambangan pada tahun 1767.

“Ada ratusan serdadu Eropa yang diberangkatkan dari Semarang di bawah pimpinan Letnan Erdwijn Blanke. Ditambah bantuan 3.000 prajurit dari Madura dan Pasuruan. Belanda juga mengirimkan 25 kapal besar dan kapal-kapal lainnya yang berukuran lebih kecil,” kata Abdullah Fauzi.

Kedatangan orang-orang VOC beserta para sekutunya ternyata membuat rakyat Blambangan marah. Terlebih, orang-orang asing itu bersikap kasar dan semena-mena.

Perlawanan rakyat Blambangan terhadap VOC terus dilakukan meski sering mengalami kegagalan. Termasuk perlawanan yang dipimpin Pangeran Puger, putra Wong Agung Wilis, penguasa Blambangan saat itu.

Wong Agung Wilis sebenarnya merupakan orang yang ditunjuk VOC untuk memimpin Blambangan. Namun rupanya, ia memanfaatkan posisinya sebagai penguasa untuk menghimpun kekuatan yang nantinya digunakan menyerang VOC.

“Wong Agung Wilis ini adalah anak pemimpin Blambangan sebelumnya, Pangeran Danureja dengan seorang putri dari Kerajaan Mengwi di Bali,” kata Abdullah Fauzi.

Selain bisa menyatukan kekuatan Blambangan dan Mengwi, Wong Agung Wilis juga dibantu orang-orang Madura, Bugis, dan kaum pedagang Cina, berkat relasinya yang sangat luas.

Wong Agung Wilis juga mendapat dukungan dari Bupati Malang, Malayakusuma, cucu dari Untung Surapati yang juga memiliki hubungan kekerabatan dengan Wilis. Wong Agung Wilis lantas bersiap menyerang VOC di Ulu Pampang pada tahun 1767. Ia dibantu Mas Rempeg alias Pangeran Jagapati yang masih keturunan Raja Blambangan, Prabu Susuhunan Tawangalun.

Di sisi lain, VOC sempat memecah wilayah Blambangan menjadi dua dan menunjuk masing-masing pemimpinnya yakni Mas Anom dan Mas Weka. Namun, keduanya kelak justru bergabung dengan Wong Agung Wilis dan Pangeran Jagapati.

Sumber detik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *