18 Juli 2024
Bagikan Artikel

BANYUWANGI – Pemerintah Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh yang dipimpin langsung oleh Pejabat (Pj.) Walikota Lhokseumawe, Dr.Drs. Imran bertandang ke Banyuwangi. Program-program inovatif yang dikembangkan Banyuwangi rupanya menarik perhatian mereka untuk datang langsung melihat prakteknya.

Kedatangan Imran bersama segenap jajaran disambut  Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di pendapa kabupaten, Senin (29/8/2022). Selain merangkap sebagai Pj. Walikota Lhokseumawe, Imran merupakan Sekretaris Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum pada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI.

“Kami di Kemendagri mengetahui capaian kinerja Banyuwangi. Mulai dari pelayanan publik dan program-program inovatif lainnya. Inilah alasan kami datang mengajak teman-teman Pemkot Lhokseumawe kemari. Ada banyak hal yang bisa kita sharing untuk pembangunan di daerah kita,” kata Imran.

Salah satu yang menarik perhatian Lhokseumawe adalah masalah pelibatan masyarakat dalam proses pembangunan. Salah satu contohnya adalah pengelolaan sampah oleh Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di Desa Tembokrejo Kecamatan Muncar yang dikelola warga desa setempat.

Penanganan sampah di Muncar ini diawali dari warga Desa Tembokrejo yang membuat TPS 2016. Pada 2018, pemerintah Norwegia bersama korporasi Borealis dari Austria mendukung NGO Systemiq untuk melakukan pendampingan masyarakat Kecamatan Muncar, yang diberi nama Project STOP.

Saat ini, pengelolaannya telah menjangkau 7.500 KK dari empat desa di Muncar. Salah satu dampaknya, di desa tersebut tidak lagi terjadi banjir. Bahkan sampah plastiknya telah diekspor ke Autria untuk didaur ulang.

“Praktek-praktek baik semacam ini akan menjadi acuan kami untuk perbaikan tata kelola persampahan di Lhokseumawe,” kata Imran.

Sementara itu, Bupati Ipuk menyebutkan, bahwa kesuksesan penanganan TPS3R di Muncar itu atas kontribusi banyak pihak. Mulai dari pemerintah pusat, pihak yang melakukan pendampingan, hingga pemerintah dan warga desa.

“Atas kolaborasi dan kesadaran banyak pihak inilah, pengelolaan sampah di Desa Tembokrejo, dapat berjalan dengan lancar dan terus berkembang,” ungkap Ipuk.

Saat ini, lanjut Ipuk, program kerjasama pengelolaan sampah tersebut dikembangkan dengan skala yang lebih luas. Melalui program bertajuk Banyuwangi Hijau, skalanya akan menjangkau lima kecamatan.

“Dengan program yang kita kelola bersama Systemiq ini, kita berharap dapat berkontribusi sebesar 19,5 persen dari penanganan kebocoran sampah di Banyuwangi pada 2024,” papar Ipuk.

“Selain program pengelolaan sampah, kami juga intens mengedukasi masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan lewat festival. Di antaranya,  Festival Kali Bersih, Toilet Bersih, Sedekah Oksigen, hingga program menjaga kebersihan sungai yang melibatkan sekolah hingga perguruan tinggi,” imbuhnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *