18 Juli 2024
Bagikan Artikel

JAKARTA,- Kamohu, kain tenun khas Buton, Sulawesi Tenggara ternyata memiliki kisah menarik di balik pembuatannya. Kain ini berasal dari Desa Gumananon, Kecamatan Mawasangka, Buton Tengah, dan menjadi sebuah warisan turun-temurun bagi masyarakat setempat. Di daerah itu, hampir di setiap kolong rumah panggung ditemukan perempuan yang sedang menenun kain. Dan, kain itulah yang disebut tenun Kamohu.

Dilansir dari rilisan resmi Kemenkop UKM (2022), tradisi menenun ini dikisahkan berawal dari sebuah nilai yang dipegang masyarakat, bahwa seorang anak gadis tidak boleh turun tanah atau keluar rumah (dalam artian menikah) apabila tidak pandai menenun. Erly, salah seorang perempuan asli daerah tersebut menjelaskan kepandaian para perempuan untuk menenun dipercaya akan mempengaruhi kehidupan rumah tangga mereka nantinya. “Karena dengan menenun, mereka dapat merajut kehidupannya. Sejarahnya seperti itu. Maka ini dilakukan di bawah rumah,” ucap Erly saat ditemui di Desa Gumanano. Kamohu biasanya dijadikan sarung oleh masyarakat sekitar. Namun, anak-anak muda kemudian menyulap kamohu menjadi produk lain, seperti tas selempang, syal, dan lainnya.

Erly menjelaskan, di tengah digitalisasi saat ini, ia tidak merasa takut akan punahnya tradisi tenun di daerahnya itu. Ia percaya, Kamohu dan tradisi tenun di desanya akan tetap lestari pada setiap generasi baru yang lahir.

“Tradisi ini akan selalu ada karena ibu di tiap keluarga akan selalu menurunkan ini ke anak cucu mereka. Semua pasti bisa. Di saat mereka remaja, mereka harus diajarkan ini. Makanya ini menjadi keharusan di desa Kami. Walaupun para perempuan ini punya pendidikan yang tinggi, mereka akan tetap melestarikan tradisi ini,” kata Erly. Rata-rata, harga kain dipatok di kisaran Rp 200.000 sampai dengan Rp 300.000 per lembarnya. Proses tenun kamohu ini diungkap Erly layaknya melukis di atas kain. Artinya, saat para penenun ini membuat kain yang dipesan oleh konsumen, pola kain akan tergambar di pikiran para penenun sesuai permintaan dan langsung mereka tuangkan pada tenunan.

Sumber: kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *