18 Juli 2024
Bagikan Artikel

Berita Banyuwangi – Para pedagang sayur keliling atau biasa disebut mlijoan di Banyuwangi punya tugas lain. Mereka dilibatkan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam menyalurkan bantuan makan tambahan bagi balita stunting ataupun ibu hamil resiko tinggi (bumil risti).

Salah satu pedagang mlijoan yang dilibatkan tersebut adalah Devi Wijayanti. Warga Jambewangi ini, kini rutin mengantarkan anrka makanan tambahan bergizi bagi balita stunting ataupun bumil risti.

“Setiap hari saya mengantarkan sayur dan lauk kepada bumil risti dan balita stunting. Menunya setiap hari beda. Hari ini menunya sayur gambas dan telur puyuh,” terang Devi.

Saat ini, imbuh Devi, dirinya setiap hari mengantarkan ke tiga orang bumil risti dan seorang balita stunting di Dusun Kepanjen, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi. 

Salah satu penerimanya adalah Izzata Baried. Perempuan berusia 28 tahun itu, sedang hamil 27 pekan dengan kondisi resiko tinggi. Ia pernah mengalami dua kali keguguran karena adanya myom.

“Alhamdulillah, sekarang bisa hamil lagi. Kami sangat bersyukur karena terus dipantau sekaligus dibantu tambahan nutrisi harian,” ungkap Izza.

Izza pun setiap harinya mendapatkan makanan tambahan bergizi untuk memastikan bayinya terlahir dengan sehat. “Yang dikirim variatif, dan cukup untuk makanan harian,” akunya.

Hal yang sama juga diakui oleh Siti Solikah. Perempuan berusia 42 tahun itu, baru saja melahirkan seorang anak sekitar sepuluh bulan silam. Karena hamil diusia yang relatif tua itu, bayinya terlahir prematur sehingga terancam stunting.

“Sudah tiga minggu ini saya mendapatkan bantuan makanan untuk anak saya. Ada sayur, buah dan ikan yang di antar setiap hari,” terang ibu tiga anak itu.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang memggelar Bunga Desa (Bupati Ngantor di Desa) di Jambesari, Sempu pada Rabu (22/2/2023), meninjau langsung pelaksanaan program tersebut. Ipuk memastikan program tersebut berjalan dengan baik, efisien dan tepat sasaran.

“Saat ini, ada 3,95 persen balita stunting di Banyuwangi atau sejumlah 2.704 balita. Ini terus kita kebut penanganannya sampai benar-benar zero stunting,” ungkap Ipuk.

Begitu pula dengan angka kematian ibu (AKI) juga terus diminimalisir. Pada tahun lalu, ada 25 kasus. Hal ini terus dilakukan antisipasi dengan serangkaian perawatan sedini mungkin. 

“Tahun ini kami menganggarkan Rp 7 miliar untuk 1296 sasaran bumil risti dan baduta dari keluarga miskin. Anggaran ini diperuntukkan bagi pemberian makanan tambahan bergizi sebagaimana yang disalurkan oleh mlijoan tadi,” terang Ipuk.

Pelibatan mlijoan sendiri, imbuh Ipuk, tidak sekadar meningkatkan efektivitas. Tapi, juga memiliki dampak ekonomi bagi mereka yang terlibat. “Inilah wujud kolaborasi yang berdampak,” kata Ipuk.

Dalam kesempatan itu, Ipuk mengapresiasi kinerja Desa Jambewangi yang berhasil menekan angka kematian bayi selama 8 tahun berturut, dari 2014 -2022. 

“Berkat kerja keras dan kolaborasi dari kecamatan, desa, dan puskesmas mereka bisa menekan angka kematian bayi. Ditunjang puskesmasnya juga banyak  inovasi, kami harap derajat kesehatan warga Desa Jambewangi terus meningkat,” tutupnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *