17 Juli 2024
Bagikan Artikel

Angka anak putus sekolah di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, cukup tinggi. Berdasarkan catatan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, hingga akhir tahun 2022, total ada 4.834 siswa yang harus berhenti sekolah.

Kecamatan Muncar mencatatkan angka tertinggi kasus anak putus sekolah, yakni mencapai 459 siswa. Disusul Kecamatan Genteng yang mencapai 408 siswa, Kecamatan Wongsorejo 372 siswa dan Kecamatan Kalibaru 263 siswa.

Sekretaris Komisi IV DPRD Banyuwangi, Khusnan Abadi mengaku terkejut dengan tingginya anak putus sekolah tersebut. Dia heran karena anggaran untuk mengelola program pendidikan cukup tinggi, namun tidak mendapatkan hasil maksimal. Seperti program Siswa Asuh Sebaya (SAS). Program ini dirintis sejak era Bupati Abdullah Azwar Anas dan sudah dikembangkan menjadi lima sub.

Tak hanya itu, dalam penanggulangan anak putus sekolah juga ada program Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah (Garda Ampuh). “Upayanya sudah seperti itu bahkan sampai mendapat penghargaan. Anehnya fakta di lapangan angka putus sekolah sangat tinggi,” kata Khusnan, Rabu (29/3/2023).

Menurut Khusnan, pihak Dinas Pendidikan Banyuwangi tidak bisa memberi jawaban yang jelas dan mendetail. “Katanya mau dikoordinasikan dengan lintas instansi. Karena proporsi kasus antara negeri dan swasta sama banyaknya,” terang Khusnan. Untuk itu, Komisi IV DPRD Banyuwangi mendesak eksekutif untuk lebih serius menangani masalah anak putus sekolah.

Khusnan juga meminta agar angka anak putus sekolah yang tinggi tersebut harus turun dengan anggaran yang sudah disepakati.

Apalagi dengan banyaknya penghargaan yang diraih, seharusnya dapat sejalan dengan kenyataan di lapangan. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno mengakui angka anak putus sekolah di Banyuwangi cukup tinggi.

Menurut Suratno, angka itu merata mulai jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. “Dari seluruh jenjang dan jenis satuan pendidikan. Mulai SD, SMP, SMA/SMK, MI, MTs, MA, pondok pesantren, dan pendidikan masyarakat,” ucap Suratno. Untuk menekan angka tersebut, pihaknya mengaku akan memaksimalkan program yang sudah dicanangkan. “Kami ada program (Aksara) Akselerasi Sekolah Masyarakat,” tandasnya

Sumber:KOMPAS.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *