17 Juli 2024
Bagikan Artikel

Pemkab Banyuwangi mendukung peluncuran Pusat Pencegahan Polusi Plastik (Living Lab). Program satu-satunya di Indonesia ini diluncurkan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves).
Living Lab diinisiasi oleh Menko Marves, Luhut Binsar Pandjaitan bersama para peneliti yang tergabung dalam program Plastics in Indonesian Society (PISCES) yang diawaki oleh Profesor Susan Jobling dari Brunel University London.

Peluncuran Living Lab yang berlokasi di Desa Pancoran, Kecamatan Rogojampi pada Rabu (24/5). Hadir dalam peluncuran itu Asisten Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah, Kemenko Marves, Rofi Alhanif, Tim PISCES, dan Plt Kepala Dinas Lingkungan Kabupaten Banyuwangi Dwi Handayani.

Rofi Alhanif menjelaskan Living Lab ini merupakan ruang yang terbuka bagi para peneliti, pemerintah, swasta, masyarakat dan para inovator. Terutama untuk berkolaborasi dalam menggodok berbagai inisiatif dan inovasi terkait sampah plastik.

Tak hanya itu, Living Lab juga akan mengajarkan cara mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, pengelolaan plastik dalam siklus penuh plastik, serta bagaimana menyusun sistem pengelolaan limbah untuk merancang rantai solusi kemitraan antara pemerintah, bisnis, dan industri.

“Ini merupakan inovasi yang relatif baru di Indonesia, kita berharap ini sustain atau berkelanjutan. Kami mengundang akademisi, pelaku industri, komunitas, serta masyarakat hadir kemari untuk belajar bersama, dan menyusun konsep aksi nyata guna mencari solusi terkait sampah plastik khususnya,” ujar Rofi, Minggu (28/5/2023).

Direktur kemitraan PISCES, Prof Susan Jobling mendeskripsikan Living Lab Banyuwangi sebagai pusat inovasi berbasis lokasi di mana solusi inovatif diujicobakan dan dipantau secara nyata. Sehingga ada keselarasan antara teori dari peneliti dan praktik lapangan.

“Apabila ini berjalan dengan baik, akan mendorong perubahan dalam mengatasi polusi plastik di sumbernya, melindungi ekosistem laut dan air tawar, meningkatkan perikanan dan pariwisata serta memperkuat ekonomi lokal, serta akan mengubah tata kelola hidup bersih dan sehat,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut dengan antusias hadirnya Living Lab di Banyuwangi. Menurutnya, program ini dapat mengakselerasi upaya penanganan sampah di Banyuwangi.

“Terima kasih kepada pemerintah pusat yang terus memberikan dukungan untuk pengelolaan persampahan di Banyuwangi. Hadirnya Living Lab beserta tim peneliti makin mengoptimalkan langkah-langkah penanganan sampah plastik yang sudah kita lakukan selama ini,” kata Ipuk.

Selama ini, lanjut Ipuk, Banyuwangi juga telah melaksanakan beragam program pengelolaan sampah secara kolaborasi bersama banyak pihak. Salah satunya, lewat project STOP (Stop Ocean Plastics) yang membantu pengelolaan sampah laut di perairan Muncar.

Program kolaborasi ini menggandeng PT Systemiq Lestari Indonesia. Dan kini kini diperluas skalanya dengan mendirikan pusat daur ulang sampah di Kecamatan Songgon yang menjangkau 5 kecamatan lain di sekitarnya.

Dikatakan Ipuk, Banyuwangi juga bersinergi dengan NGO Sungai Watch melakukan pembersihan sampah di sungai. Selain itu, sinergi juga dijalin bersama asosiasi pengelolaan sampah dari Norwegia, Clean Ocean Through Clean Communities (CLOCC), menyiapkan masterplan pengelolaan sampah.

Sumber: Detik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *