14 Juli 2024
Bagikan Artikel

 Pemkab Banyuwangi terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan kompetensi siswa di kabupaten the Sunrise of Java. Berbagai inovasi untuk mencapai target itu pun terus digalakkan, terutama oleh Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi.

Salah satunya dibuktikan dengan mengoptimalkan kerja sama antara seluruh stakeholder melalui fasilitasi Kemitraan, Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat untuk Mengembangkan Pendidikan di Kabupaten Banyuwangi (Kisah Kembangwangi). Berkenaan dengan inovasi tersebut, Dispendik pun menggelar fasilitasi kemitraan sekolah, keluaga, dan masyarakat dalam pengembangan sekolah tahun 2023 di Pendapa Sabha Swagata Blambangan kemarin (30/5).

Kegiatan di pendapa tersebut diwarnai pembagian buku ”Kisah Kembangwangi” kepada perwakilan peserta yang terdiri dari kepala sekolah, siswa, komite sekolah. Selain itu, acara juga diisi penyampaian materi oleh tiga narasumber.

Kepala Dispendik Suratno mengungkapkan, tujuan utama kegiatan tersebut yakni untuk menciptakan kemitraan antar-stakeholder penunjang pendidikan yang dikenal sebagai Tri Pusat Pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.

”Terwujudnya kemitraan antar semua stakeholder untuk meningkatkan tumbuh kembang anak dalam dunia pendidikan. Terutama berhubungan dengan aksesibilitas yaitu tumbuhnya kesadaran dari masyarakat. Kedua adalah kualitas, di mana anak harus selalu didampingi sehingga kompetensinya meningkat,” ujarnya.

Tersusunnya buku Kisah Kembangwangi yang dibagikan kepada peserta acara didasarkan pada filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Pendidikan pada hakikatnya menjadi tanggung jawab bersama. Namun, pada kenyataanya masih berjalan secara sektoral. Sehingga, koordinasi belum berjalan secara intens, bahkan cenderung lebih menuntut.

”Seperti keluarga menuntut sekolah yang harus mengoptimalkan kompetensi dan pendidikan anak. Begitu pula sekolah yang meminta orang tua harus  peduli terhadap pendidikan anak,” ucap Suratno.

Suratno berharap, melalui upaya mewujudkan kerja sama dan koordinasi yang baik antar-stakeholder tersebut, ada sinergisitas dan kemitraan antara orang tua, sekolah, dan masyarakat. Sehingga, teori konvergensi pendidikan bisa berjalan dengan baik. Yakni kompetensi anak bisa berkembang secara maksimal, antara faktor genetik dan lingkungan.

”Kami ingi mengoptimalkan lingkungan secara kondusif dan masyarakat mendukung. Insya Allah anak-anak kita bisa dikembangkan secara maksimal. Itulah yang kami sebut dengan keunggulan kompetitif,” tutur Suratno.

Sementara itu, tiga narasumber yang dihadirkan memberikan pemaparan terkait konsep, urgensi, dan best practice kemitraan. Mereka adalah Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) Samsudin Adlawi, Dewan Pendidikan Banyuwangi Sulihtiyono, dan Dosen Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Nur Wiarsih.

Dalam paparannya, Samsudin mengatakan bahwa sekolah tidak dapat melalukan perubahan kualitas pendidikan secara mandiri. Sebab, terdapat empat stakeholder yang berperan yakni pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat.

”Pemerintah tidak mungkin membangun pendidikan sendirian. Harus melibatkan para pihak yang terkait dengan perihal mengembangkan di lembaga pendidikan masing-masing. Harus ada kesatuan gerak stakeholder pendidikan, keempatnya ini harus melakukan sinergi,” kata Samsudin.

Sementara, menurut Sulihtiyono, Tri Pusat Pendidikan telah diterapkan sejak zaman Ki Hajar Dewantara. Konsep ini kembali diangkat dalam pendidikan di Banyuwangi untuk menunjukkan betapa pentingnya peran seluruh stakeholder dalam menunjang kompetensi dan kualitas generasi emas. ”Diangkat kembali karena memang masih relevan dan faktanya pendidikan tidak bisa meningkatkan kualitas anak secara mandiri tanpa bekerja sama dengan keluarga dan lingkungan. Kerja sama antartiga pilar ini tidak bisa ditinggalkan,” tuturnya.

Narasumber terakhir, Nur Wiarsih mengatakan, sebenarnya sekolah di Banyuwangi telah menjalin hubungan dengan pihak orang tua. Namun, yang perlu digarisbawahi yakni seberapa masif pihak sekolah saling berkoordinasi. ”Semua sekolah dasarnya sudah saling berhubungan dengan pihak keluarga. Tetapi bagaimana komunikasi dan kemitraan tersebut berjalan secara optimal, itu yang perlu diperhatikan,” tegasnya.

Sumber: radarbanyuwangi.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *