18 Juli 2024
Bagikan Artikel

Jakarta – Efek rumah kaca yang berlebihan akan menyebabkan pemanasan global, dimana suhu bumi menjadi semakin panas. Fenomena perubahan iklim itu diungkapkan dr. Setiani Imaningtias selaku Ketua Departemen Kesehatan dan Lingkungan PP Nasyiatul Aisyiyah, dalam webinar Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2023 bertema “Bersama Perempuan Tangguh, Mari Menjadi Penyelamat Bumi”.

Selain meningkatkan suhu panas bumi, Setiani menyebut dampak perubahan iklim bisa mempengaruhi kesehatan manusia. Kenaikan suhu menyebabkan kekeringan, sehingga seluruh aktivitas akan kesulitan mendapatkan air bersih.

Perubahan iklim ini, lanjut dia, juga mengganggu hasil panen sehingga berdampak pada menurunnya sumber bahan pangan. Bahkan parahnya, perubahan iklim disertai intensitas dan frekuensi panas yang tinggi dapat menyebabkan kematian.

“Jika sulit mendapat air bersih, kita akan rentan mengalami penyakit seperti diare, penyakit kulit. Kemudian adanya perubahan iklim, akan mengganggu hasil panen, sehingga sumber bahan pangannya menurun, akhirnya pemenuhan gizi kelompok rentan dan membutuhan ini terganggu. Lalu adanya pola curah hujan dan kelembaban, ini mempercepat perkembangan parasite dan bakteri, misalnya pada kasus penyakit malaria, atau fenomena banjir yang bisa menimbulkan penyakit DBD.
Terparah, apabila intensitas dan frekuensi gelombang panas meningkat maka menyebabkan perubahan suhu ekstrem, jika suhu tinggi dapat berpotensi menyebabkan kematian,” terang Dokter Umum yang berdinas di RSUD Tarakan Jakarta ini, Sabtu (10/6/2023).

Ia pun mengajak semua kalangan untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim, mulai dari langkah sederhana seperti menghemat penggunaan listrik, memilih untuk menggunakan transportasi umum daripada kendaraan pribadi, hingga meminimalisir penggunaan kantong plastik.

“Kemudian memilih produk yang ramah lingkungan, menggunaan tabir surya, menggunakan masker untuk melindungi pernapasan kita dari polusi, asap dan lainnya, lalu membiasakan diri untuk hidup sehat, menjaga imunitas kita dari paparan penyakit dan mengurangi penggunaan barang dalam kemasan aerosol, mulai edukasi diri kita menanam pohon,” seru Aktivis yang akrab disapa Tia.

Imbuan serupa juga disampaikan Praktisi Lingkungan dr. Davrina Rianda, dimana perempuan dalam satuan rumah tangga memegang peran penting untuk melakukan perubahan penyelamatan iklim bumi.

“Ibu adalah aktor utama dalam rumah tangga yang efektif untuk gerakan perubahan kesehatan maupun lingkungan di lingkup rumah tangga,” ujar Davrina yang merupakan Co-Founder Mama4planet.

Menurut Davrina, peran ibu dapat membantu mengurangi sampah makanan atau sampah rumah tangga hingga sebesar 30 persen. Gerakan tersebut pernah dilakukan Davrina di komunitas binaannya. Lebih lanjut ia mengajak seluruh Kader Nasyiatul Aisyiyah untuk menjalin sinergisitas dengan lintas sektoral, untuk memimpin perubahan iklim.

“Sayang banget jika kita underestimate terhadap peran perempuan dalam pengurangan sampah, perempuan tidak hanya berpartisipasi, tetapi harus memimpin perubahan, maka kita butuh banyak perempuan yang inisiatif,” imbuhnya.

Senior Ambassador for Greenfaith Nana Firman juga menegaskan, jutaan spesias akan lenyap di muka bumi karena perubahan iklim. Sebab fenomena perubahan iklim terjadi akibat tingginya pemanfatan sumber daya alam, ditambah jutaan ton sampah atau limbah serta gas rumah kaca secara masif.

“Untuk mencegah pemanasan melebihi 1,5 derajat Celcius, kita perlu mengurangi emisi sebesar 7,6 persen setiap tahun dari tahun ini hingga 2030 mendatang,” ucap Nana mengutip data Emission Gap Report tahun 2019.

Koordinator Aisyiyah Amerika Serikat ini mengingatkan peserta untuk meminimalisir penggunaan plastik. Sebagai konsumen juga bisa mengajukan aspirasi kepada produsen untuk menyediakan tempat khusus recycle produk berupa botol maupun plastik.

“Sebagai konsumen, kita bisa mengorganisir dan meminta supaya ada tempat recycle botol-botol samphoo atau produk lainnya. Sebab tanggungjawab recycle itu bukan pada konsumen, tetapi si produsen produk tersebut. Kita harus push ke produsen untuk mendorong mereka, kalau mereka tidak mau dengerin aspirasi konsumen, bisa saja kita memboikot produk mereka,” tegas Nana.

Terakhir ia mengingatkan bahwa upaya pelestarian lingkungan dan mitigasi perubahan iklim merupakan ibadah dan menjadi tanggungjawab seluruh makhluk di bumi.

Sebagai informasi, webinar Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2023 ini diinisiasi oleh Departemen Kesehatan dan Lingkungan PP Nasyiatul Aisyiyah. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang menjaga perubahan iklim dengan penghijauan.

Penulis: Tsani Itsna Ariyanti

Sumber beritabanyuwangi.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *