23 Juli 2024
Bagikan Artikel

Berita Banyuwangi – Badan Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melatih para perempuan istri nelayan skala kecil di Kabupaten Banyuwangi untuk memperkuat keterlibatan mereka dalam rantai nilai perikanan. 

Pelatihan yang melibatkan ibu-ibu di pesisir pantai Banyuwangi itu telah berlangsung sejak Juli 2022. Setahun berlalu, pelatihan itu telah memberikan beberapa hasil.

Salah satunya menciptakan berbagai produk olahan hasil perikanan dari tangan para istri nelayan.

Produk-produk itu dipamerkan dalam kegiatan “Semarak Perempuan Perikanan Banyuwangi untuk Indonesia” yang digelar di Taman Blambangan, Minggu (18/6/2023).

Kepala Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste Rajendra Aryal menjelaskan, para istri nelayan skala kecil punya peran sentral dalam mempromosikan ikan sebagai sumber gizi untuk konsumsi sehari-hari.

“Penting untuk mengakui peran perempuan dalam perikanan skala kecil. Perempuan memainkan peran sentral dalam mempromosikan ikan sebagai sumber gizi dan konsumsi harian”, kata Aryal.

Dalam pelatihan yang dijalankan, berbagai intervensi telah dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas kelompok perempuan dalam perikanan skala kecil.

Survei terbaru FAO yang dilakukan di Banyuwangi mengungkapkan, hampir 80 persen istri nelayan tidak terlibat dalam pengambilan keputusan terkait penggunaan pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan itu.

Padahal, mereka dan suami memiliki akses yang hampir sama terhadap kegiatan perikanan. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan ketidakseimbangan peran perempuan dalam ranah ekonomi.

Selama satu tahun perjalanan proyek pelatihan, berbagai kegiatan pelatihan dan pendampingan telah dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas kelompok itu di Banyuwangi.

Khususnya dalam peningkatan kesadaran untuk berperan dalam pengambilan keputusan, pengembangan kapasitas organisasi, pengembangan usaha, dan peningkatan kualitas serta daya saing produk olahan ikan.

“Pemberdayaan perempuan dalam sektor perikanan skala kecil berkontribusi pada pencapaian SDGs. Dengan meningkatkan peran mereka, kita dapat menciptakan perubahan positif untuk mencapai produksi yang lebih baik, gizi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih baik,” tambah Aryal.

Retno Setyowati (39), pemilik gerai ikan bakar kecil di desa pesisir Blimbingsari, yang jaraknya 20 km dari pusat kota, menyatakan, berbagai pelatihan yang diberikan telah memungkinkan ia dan kelompoknya belajar cara mengemas ikan bakar dan memproduksi sambal dalam botol. Pelatihan itu juga membantunya memperluas pasar.

“Kami telah mengirim ikan bakar dan sambal ke pelanggan kami di Jakarta dan Surabaya. Saya tidak hanya dapat memperluas pasar saya, tetapi saya juga belajar cara menetapkan harga yang wajar untuk produk saya,” kata Retno.

Dengan pengetahuan dan keterampilan baru, Retno mengaku pendapatan rumah tangganya meningkat 40 persen.

Berdasarkan data yang ada, perikanan skala kecil memainkan peran penting dalam menyediakan gizi dan pendapatan bagi masyarakat.

Sekitar 97 persen nelayan di Indonesia adalah skala kecil jika dilihat dari ukuran kapal yang mereka gunakan, yakni berukuran di bawah 10 GT.

“Peran perempuan dalam kehidupan pesisir, tidak hanya berkontribusi pada keberlanjutan ekonomi dan lingkungan, tetapi juga mencerminkan kesetaraan gender dan pentingnya inklusi dalam pengambilan keputusan,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (KKP), Machmud.

Machmud mengatakan, program pelatihan perempuan nelayan di Banyuwangi merupakan yang pertama di Indonesia.

Tujuan utama proyek ini, kata dia, adalah mempromosikan kesetaraan gender dan sistem pangan serta mata pencaharian yang tahan perubahan iklim di komunitas perikanan skala kecil.

Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Banyuwangi Dwi Yanto menambahkan, Banyuwangi memiliki garis pantai sepanjang 173 kilometer (km).

“Dengan fakta itu, masih banyak potensi perikanan yang bisa dikembangkan. Itu belum termasuk perikanan budidaya darat yang jumlahnya juga cukup besar,” kata Dwi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *