23 Juli 2024
Bagikan Artikel

Berita Banyuwangi – Pagelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2023 yang mengusung tema The Magic of Ijen Geopark berhasi memukau ribuan pengunjung, Sabtu (8/7/2023). Mereka memadati catwalk jalanan sepanjang tiga kilometer. Dari jalan Veteran di sisi utara Taman Blambangan hingga di penghujung jalan Jenderal Sudirman.

Suasana mendung yang berpotensi hujan tak menyurutkan langkah pengunjung untuk menyaksikan acara yang masuk dalam Kalender Event Nasional (KEN) Kementerian Pariwisata Republik Indonesia itu. Dengan antusias mereka menunggu para talent memeragakan adibusana yang memadukan lokalitas dan kreasi futuristik tersebut.

Setidaknya hal tersebut datang dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang menyempatkan hadir di tengah kunjungan kerjanya di Banyuwangi. Menurutnya, BEC ini menjadi bagian menjaga warisan budaya sekaligus mensyukuri anugerah alam yang diberikan Tuhan.

“Warisan budaya yang kita miliki ini akan terus berevolusi. Ini semua tergantung kita, mau menjaganya ataukah membiarkannya. Ini [BEC], saya kira, bagian dari cara Banyuwangi menjaga warisan tersebut,” ungkapnya.

Hal tersebut ditegaskan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Penyelenggaraan BEC bertujuan untuk memberikan panggung bagi penggiat seni budaya Banyuwangi dalam panggung yang spektakuler dan megah.

“Ini tidak sekadar tontonan dan hiburan semata. Tapi, ini menjadi panggung bagi talenta-talenta Banyuwangi untuk merawat budaya yang kita miliki dan memperkenalkannya kepada dunia,” ungkap Ipuk.

Selain itu, BEC dan event-event Banyuwangi Festival lainnya, adalah bagian dari konsolidasi ekonomi dan sosial bagi masyarakat Banyuwangi. “Ini bagian dari Banyuwangi Rebound, di mana bertujuan untuk membangkitkan ekonomi dan merajut kebersamaan semua stakeholder,” imbuh Ipuk.

BEC kali ini memang terasa spesial dibandingkan dengan edisi sebelumnya. Selain dihelat selama sepekan, perhelatan kali ini didedikasikan atas keberhasilan Banyuwangi menjadikan Geopark Ijen masuk dalam jejaring UNESCO Global Geopark. 

Atas dedikasi tersebut, defile BEC mengadaptasi sejumlah situs yang menjadi bagian dari kawasan Geopark Ijen. Mulai dari Gunung Ijen, Alas Purwo, Air Terjun Lider, Pantai Sembulungan, Pantai Pulau Merah, Pantai Parang Ireng sampai Pantai Sukamade.

Kostum yang dibawakan oleh ratusan talent tersebut merepresentasikan kekhasan masing-masing sub geosite tersebut. Defile Gunung Ijen mencolok dengan pilihan warna tosca khas air kawah. Berpadu dengan aksentuasi kuning yang melukiskan belerang yang banyak dihasilkan di gunung satu-satunya yang punya api biru itu. 

Begitu pula dengan defile lainnya. Masing-masing menonjolkan kekhasannya. Seperti halnya penyu dari defile Sukamade, banteng pada defile Alas Purwo dan lain sebagainya. “Desainnya fresh dan menarik. Beda dengan tahun-tahun sebelumnya,” ungkap salah satu pengunjung yang tak pernah absen menyaksikan BEC sejak pertama kali dihelat pada 2011. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *