24 Juli 2024
Bagikan Artikel

Berita Banyuwangi –  Ritual adat Kebo-keboan Alas Malang  yang digelar masyarakat Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Minggu (30/7/2023), berlangsung meriah.

Ritual ini ditandai dengan kenduri desa dan diakhiri dengan ritual ider bumi. Puluhan “kerbau” mengelilingi desa dengan arah empat penjuru arah mata angin.

“Kerbau” yang dimaksud bukanlah hewan ternak, melainkan warga desa yang menyerupai kerbau. Badannya dilumuri jelaga hingga hitam pekat seperti kerbau, di kepalanya juga mengenakan asesoris berbentuk tanduk dan gelang kerincing di tangan dan kakinya. Persis Kerbau.

Mereka berkubang, bergumul di lumpur, dan bergulung-gulung di sepanjang jalan yang dilewati. Saat berjalan pun di perut mereka ditali seperti kerbau. Ritual ini merupakan simbolisasi penghormatan kepada leluhur dan alam agar panen melimpah. 

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang turut hadir dalam ritual tersebut mengatakan bahwa ritual kebo keboan Alas Malang ini adalah bentuk kekuatan budaya agraris Banyuwangi. 

“Ini adalah salah satu warisan budaya yang harus kita lestarikan dan kembangkan. Saya salut dengan masyarakat Alas Malang yang tetap menjaga tradisi ini,” ujarnya.

Ipuk menambahkan ritual ini juga merupakan ikhtiar masyarakat Alas Malang kepada Tuhan agar diberikan panen yang baik dan melimpah. “Ini adalah bentuk syukur dan doa kepada Sang Pencipta. Semoga Alas Malang dan Banyuwangi selalu diberkahi dengan kemakmuran dan kesejahteraan,” harapnya.

Ipuk menambahkan pemerintah daerah berkomitmen mendukung pelestarian budaya termasuk Kebo-keboan Alas Malang. “Kami akan terus memberikan fasilitasi dan bantuan untuk melestarikan budaya ini. Budaya adalah identitas kita sebagai bangsa. Jika kita tidak menjaga budaya kita, maka kita akan kehilangan jati diri kita,” tegasnya.

Ritual Kebo-keboan Alas Malang menyedot ribuan masyarakat untuk menyaksikannya. Suasana meriah dan penuh kegembiraan terlihat di wajah para penonton maupun peserta ritual.

Salah satu pengunjung, Cece Ayu (18) juga ikut larut dalam prosesi dan terkena lumuran jelaga.

“Tradisi Kebo-keboan ini selalu saya ikuti sejak kecil. Senang saja ikut meramaikan dan menjadi bagian dari tradisi ini,” ujar remaja asal Rogojampi itu.

Sementara, Dhika Saiful Bahri (32) sengaja mengajak keluarganya untuk ikut menyaksikan ritual kebo-keboan.

“Saya sedang berlibur bersama keluarga. Pas juga ada festival kebo-keboan jadi saya ajak keluarga ke sini. Ternyata selain wisata, kearifan lokal juga dimiliki Banyuwangi,” ujar Dhika, warga asal Tasikmalaya. 

Tradisi Kebo-keboan sudah ada sejak abad ke-18 Masehi dan berasal dari kisah Buyut Karti, yang mendapat wangsit untuk menggelar upacara bersih desa dengan cara menjelma menjadi kerbau. Sebelumnya tradisi serupa juga dilaksanakan di Desa Aliyan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *