23 Juli 2024
Bagikan Artikel

Berita Banyuwangi – Komitmen Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk menangani sampah terus digalakkan. Salah satunya dengan membersihkan Pantai Tratas, Kecamatan Muncar yang dipenuhi sampah.

Gerakan bersih-bersih pantai tersebut digalang bersama dengan Sungai Watch. NGO (Non Government Organization) yang berbasis di Bali itu, sejak 2022 telah bekerjasama untuk menanggulangi sampah di sejumlah sungai dan pantai di Banyuwangi.

“Kita telah bergerak bersama warga, pelajar, tentara dan berbagai elemen yang digerakkan oleh pemerintah untuk bersama-sama membersihkan sampah di sini,” ungkap Founder Sungai Watch, Gary Bencheghib saat acara bersih-bersih Pantai Tratas, Kamis (6/10/2023). 

Gerakan bersih-bersih Pantai Tratas tersebut telah berjalan selama 14 hari sejak September lalu. Hal tersebut akan terus dilakukan sampai lahan seluas 3 hektar itu bisa bersih dari sampah plastik. 

“Sampai saat ini, telah terhimpun 36 ton sampah. Kami bawa ke tempat pemilahan sampah di Rogojampi. Lebih dari 50 persen sudah berupa residu yang tak bisa didaur ulang,” paparnya.

Mencegah masuknya sampah ke laut, dipasang jaring di sejumlah aliran sungai. Sungai Watch mentargetkan 100 jaring terpasang di sejumlah aliran sungai,  termasuk di kawasan Pantai Tratas. 

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang ikut serta dalam bersih-bersih pantai tersebut, mendukung penuh upaya pembersihan sampah plastik. Ia mengaku telah menjalin kerjasama secara intens dengan Sungai Watch maupun para pihak lainnya.

“Bersama dengan Sungai Watch ini kita telah memasang puluhan jaring di sejumlah sungai di Banyuwangi untuk mencegah sampah plastik sampai di laut. Ini akan terus ditambah. Termasuk juga di bibir pantai untuk mencegah sampah plastik yang terbawa saat laut pasang,” terang Ipuk.

Selain melakukan tindakan penanganan yang demikian, Ipuk juga memaparkan penanganan sampah yang dilakukannya dari hulu ke hilir. Di antaranya melalui program Sekardadu (Sekolah Rawat Daerah Aliran Sungai di Banyuwangi), di mana pihak sekolah dan sivitas akademika kampus diberi tanggung jawab untuk menjaga kebersihan sungai di lingkungannya sekitar. 

“Ini untuk mengedukasi warga, khusunya siwa-siswa, untuk mulai paham bagaimana mengendalikan produksi sampah. Termasuk sosialisasi untuk menghilangkan kebiasaa buang sampah ke sungai,” tegas Ipuk.

Ada pula program Banyuwangi Hijau yang bekerjasama dengan pemerintah Norwegia dan korporasi dari Austria membangun tempat pengolahan sampah terpadu. Program ini melibatkan masyarakat untuk memilah sampah rumah tangganya. Lalu, diolah di tempat khusus untuk didaur ulang.

“Setelah cukup sukses diterapkan di Muncar, kini dibuka juga di Songgon dengan kapasitas lebih besar untuk mengcover enam kecamatan sekitar,” pungkas Ipuk. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *