14 Juli 2024
Bagikan Artikel

Berita Banyuwangi – Asrama Inggrisan merupakan salah satu obyek cagar budaya yang bakal direvitalisasi oleh Pemkab Banyuwangi pada tahun depan. Untuk menyongsong hal tersebut, berbagai kajian digalakkan dengan melibatkan sejumlah pakar.

Salah satunya dengan menggelar seminar yang mendatangkan sejumlah narasumber. Di antaranya menghadirkan sejarawan JJ Rizal dan arsitek sekaligus peneliti tata kota, Marco Kusumawijaya.

“Rangkaian seminar ini menjadi bagian dari konsolidasi publik sebelum nanti Asrama Inggrisan ini kita revitalisasi tahun depan,” ungkap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat membuka seminar tersebut di Pelinggihan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi, Minggu (17/12/2023).

Asrama Inggrisan tersebut akan dipugar sebagaimana ketentuan perundangan yang mengatur tentang cagar budaya. Orisinalitas bangunannya akan tetap dipertahankan. “Nantinya iki akan menjadi destinasi wisata sejarah dan edukasi yang semakin meningkatkan daya tarik wisatawan,” imbuh Bupati Ipuk.

Asrama Inggrisan merupakan komplek perkantoran telegrap yang menjadi penghubung dunia. Pada 1871, untuk pertama kalinya, Eropa dengan Australia tersambung kabel telegrap bawah laut. Di mana saat itu, Banyuwangi menjadi titik penghubungnya.

“Kabel bawah laut ditarik dari port Darwin di Australia sampai ke Banyuwangi. Dari Banyuwangi lantas disambung ke Singapura yang telah tersambung ke Eropa,” terang JJ Rizal yang merupakan pemilik penerbitan buku sejarah Komunitas Bambu itu.

Dengan tersambungnya jaringan telegrap dunia tersebut, lanjut Rizal, menjadikan industri pers berkembang lebih cepat. Hal ini menjadi pemantik nasionalisme yang memuncak di abad 20. 

“Jaringan telegrap yang berpusat di Banyuwangi, selain terhubung ke dunia, juga menghubungkan sejumlah pulau di Indonesia. Ini turut berkontribusi dalam melahirkan kesadaran nasional,” terangnya.

Sementara itu, Marco Kusumawijaya lebih banyak mengulas tentang bagaimana kesatuan sebuah tata ruang dari keberadaan bangunan-bangunan heritage. Setiap pemugaran bangunan cagar budaya harus memperhatikan pelestariannya. 

“Tidak sekadar melestarikan bangunannya. Tapi, juga melestarikan pula kawasannya. Sehingga fungsi dan estetika dari cagar budaya itu tetap terjaga,” jelas penulis buku ‘Kota-Kota di Indonesia: Pengantar untuk Orang Banyak’.

Fungsi dari bangunan cagar budaya itu sendiri, imbuh peneliti Rujak Centre for Urban Studies tersebut, menjadi penanda akan memori kolektif. Baik memori manis ataupun memori pahit yang terjadi di masa silam. “Generasi sekarang bisa belajar dari peninggalan-peninggalan tersebut,” tegasnya.

Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, kajian kesejarahan tentang bangunan-bangunan cagar budaya di Banyuwangi perlu terus digalakkan. “Ini penting untuk menggugah kesadaran kita bersama,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *