Advertisement

Tradisi Sedekah Bumi Senepo Lor Banyuwangi, Warisan Syukur di Era Digital

Bagikan Artikel

Berita Banyuwangi – Di tengah arus modernisasi dan derasnya pengaruh era digital, masyarakat Dusun Senepo Lor, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung, Banyuwangi tetap teguh menjaga tradisi leluhur: Sedekah Bumi. Tradisi tahunan ini menjadi bentuk syukur kolektif masyarakat terhadap Tuhan atas berkah hasil bumi dan kelestarian alam yang mereka nikmati selama ini.

Berlangsung setiap tanggal 15 Suro dalam kalender Jawa, Sedekah Bumi telah dilestarikan selama lebih dari 30 tahun oleh masyarakat Senepo Lor. Kegiatan ini bukan hanya sebagai upacara adat, tetapi juga menjadi simbol keterhubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

“Kemajuan teknologi sekarang, bukan berarti kita melupakan cara bersyukur kita kepada Tuhan atas berkat yang sudah dilimpahkan-Nya,” ujar salah satu panitia penyelenggara tradisi ini.

Asal Usul Sedekah Bumi Senepo Lor

Tradisi Sedekah Bumi bermula dari kegelisahan masyarakat akibat serangan hama yang merusak lahan pertanian. Kala itu, muncul kesadaran bahwa gangguan tersebut bisa jadi merupakan pertanda kurangnya rasa syukur kepada alam. Dari situlah lahir gagasan untuk menyelenggarakan tradisi ini sebagai bentuk penghormatan dan ucapan terima kasih kepada Tuhan dan leluhur.

Seiring waktu, Sedekah Bumi berkembang menjadi ritual tahunan yang kaya makna spiritual dan sosial. Dalam kepercayaan Jawa, bulan Suro merupakan waktu sakral untuk memulai lembaran baru kehidupan. Maka dari itu, tradisi ini juga menjadi harapan agar masyarakat mendapatkan berkah sepanjang tahun.

Makna Kearifan Lokal dan Ketahanan Ekologis

Rangkaian acara Sedekah Bumi diawali dengan kenduren—doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh dusun. Doa ini menjadi sarana untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan dan mengenang jasa para leluhur yang dahulu membuka hutan (babat alas) sebagai tempat tinggal dan bertani.

Tradisi ini juga mencerminkan prinsip ekologis masyarakat yang memanfaatkan alam secara bijak. Siklus tanam dan panen yang berpadu dengan waktu pelaksanaan Sedekah Bumi mencerminkan filosofi regeneratif, yakni menjaga keseimbangan alam dengan menghindari eksploitasi berlebihan.

Rewang: Gotong Royong Pemersatu Warga

Keberlangsungan tradisi Sedekah Bumi tidak lepas dari budaya rewang, atau gotong royong masyarakat. Para ibu-ibu bahu-membahu memasak hasil bumi yang akan disajikan saat kenduri, sekaligus menjadikan momen tersebut sebagai ruang sosial untuk berbagi kabar dan menjaga hubungan antar warga. Sementara itu, bapak-bapak turut menyiapkan gunungan—hasil bumi yang disusun dalam bentuk menarik dan diarak keliling dusun menggunakan mobil bak terbuka.

Rewang menjadi bukti kuat bahwa perayaan tradisi ini tidak hanya bersifat spiritual, namun juga memperkuat kohesi sosial antarwarga.

Transformasi Digital dalam Tradisi

Menariknya, di era digital seperti sekarang, tradisi ini justru semakin semarak. Masyarakat Senepo Lor mengadaptasi kemajuan zaman dengan menambahkan sound horeg—parade sound system berukuran besar—dalam prosesi arak-arakan. Transformasi ini tidak mengurangi makna tradisi, tetapi justru menambah daya tarik dan nilai hiburan bagi masyarakat luas.

Tradisi Sedekah Bumi menjadi contoh nyata bahwa warisan budaya bisa tetap eksis dan relevan meskipun zaman terus berubah. Nilai-nilai spiritual, sosial, dan ekologis yang terkandung di dalamnya menjadi kekuatan yang menjaga harmoni antara manusia dan alam.

Loading RSS Feed

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *